Miris, Ini Kondisi Umum Ternak di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, hay kawan semuanya  berjumpa lagi dengan peternakmuda.com, kali ini saya akan posting tentang pengalaman kunjungan saya ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan.

Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan terletak di atas bukit di wilayah paling selatan kecamatan Piyungan, tepatnya terletak di dusun Ngablak, desa Stimulyo, Kecamatan Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

Kunjungan  ke TPST Piyungan kali ini adalah salah satu agenda acara  diesnatalis ISMAPETI (ikatan senat mahasswa peternakan indonesia) yang ke 35 tahun, sebagai tuan rumah adalah fakultas peternakan UGM (Universitas gajah mada). peserta yang berkunjung ke tpst piyungan adalah  delegasi dari perguruan tinggi fakultas peternakan dari seluruh wilayah indonesia,.

Perjalanan ke lokasi lumayan menantang, kerana terletak diatas bukit. Sebelum sampai kelokasi aroma bau sampah sudah tercium dari jauh. sepanjang perjalanan menuju lokasi banyak ditemukan pemukiman penduduk yang berprofesi sebagai pemulung serta pngepul sampah dan juga kandang sapi yang dipelihara dalam kandang.

Sampai  dilokasi, rombongan kami langsung menuju masjid yang tidak jauh dari lokasi TPST piyungan. disini kami bertemu dengan  tokoh masyarakat sekitar lokasi TPST, serta disini kami juga mendengarkan sekilas tentang sejarah singkat sertaTPST, masalah sosial yang timbul,serta  asal muasal pertama kali sapi digembalakan disini. Menurut tokoh masyarakat sapi pertama kali digembalakan disini hanya beberapa ekor saja, awalnya warga sekitar tpst menegur pemilik ternak tersebut kerana seharusnya sapi tidak digembalakan disini, dan dikawatirkan akan mati.

 Tetapi ternak sapi tersebut tidak mati dan justru malah terlihat gemuk, hal itu juga yang membuat mereka heran. akhirnya dengan seiring waktu banyak masyarakat yang meniru menggembalakan ternak di tpst. Sehingga populasi terakhir sapi di tpst kurang lebih seitar 1200-1500 ekor sapi yang dimiliki kurang lebih oleh 80 orang.

Setelah mendengarkan cerita masyarakat rombongan kami menuju lokasi tpst untuk melihat langsung keadaan yang sebenarnya. perjalanan kelokasi kami dibagi menjadi 6 kelompok. Masing masing kelompok didampingi tokoh masyaraat. kelompok kami kelompok 1 didampingi oleh pak mariono.
sepanjang perjalanan di TPSP kami menggali informasi lebih detail kepada pak mariono.

Pak mariono memaparkan bahwa sebelum adanya TPST Piyungan warga masyarakat kebanyakan berprofesi sebagai petani dan tukang batu, semenjak adanya TPST warga masyarakat beralih profesi sebagai pemulung dan pengepul sampah. menurut beliau  kehidupan masyarakat sebelum dan sesudah adanya tpsp jauh lebih sejaktera. beliau juga memaparkan kontribusi yang diberikan oleh pemulung dalam pengurangan volume sampah sangatlah signifikan pengurangan volume sampah yang ada di TPST Piyungan ini bisa berkurang hingga 4800 ton per tahunnya karena keberadaan pemulung setempat. “Bayangkan jika tidak ada pemulung, berapa banyak sampah yang akan menumpuk, menurut beliau juga  pemulung dapat dikategorikan sebagai ‘Pahlawan Lingkungan’ .

Kadaan dilokasi sapi- sapi sedang makan limbah dengan lahap. Sapi-sapi di dini memakan limbah organik seperti  sampah sayur sisa sisa makanan dll. Yang saya amati terkadang sapi memakan plastik mungkin kerana disitu  terdapaty limbah organiknya didalam plastik jadi sapi iku menelan plastiknya. Secara sekilas sepengamatan saya sapi cukup gemuk.

Kami juga menggali informasi tentang penyebab warga menggembalakan sapi di tpst. murutnya, memelihara sapi dengan memberi makan dari limbah sampah jauh lebih menguntungkan  sapi akan lebih cepat besar dan tidak usah repot repot mencari makan dan mengawinkan. tau tau sudah ada yang beranak, paparnya. selain itu kami juga menanyai tentang tanggapat pemerintah tentang ternak yang digembalakan  di tpst,  menurut beliau sebenarnya pihak dinas peternakan sudah sering mensosialisasikan tentang bahaya menggembalakan sapi ditempat pembuangan samapah. informasi dari beliau sapi yang dipelihara  menurut penelitian mengandung zat besi atau timbal yang dapat mengakibatkan kanker dan juga sapi mengandung penyakit cacing hati.

Solusi sementara untuk masalah ini dinas peternakan setempat menyarankan untuk sapi yang akan disembelih sebaiknya dikarangtina minimal 3 bulan , diberi makan rumput dan tidak dilepas liarkan ditpst. tujuannya adalah untuk mengurangi residu zat zat berbahaya yang ada dalam tubuh sapi.
sekian posting saya untuk kali ini semoga bermanfaat. wasalmu'alaikum warohmatullahi wabarokatu salam cinta dari ujung kandang hidup  peternakan indonesia.

5 Responses to "Miris, Ini Kondisi Umum Ternak di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan"

  1. Replies
    1. katanya salah satu warga yang diwawancarai lebih mudah dipelihara disitu kerana tidak perlu ngarit atau cari rumput.

      Delete
  2. Kalo nanti sapi nya makan plastik gimana tuh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sapinya bisa milih kok, mana yang organik, mana yang plastik.

      Delete
  3. Hancurlah ternak kalau begitu sampah plastik....

    ReplyDelete

komentar yang baik baik yah

Popular Posts